Cerita-Skandal :Sudah selesai bang“, kata rani. “Makasih ya Tin”. “Emm..kamu mau tak mandiin juga ?”, kepalang basah, kutawarkan permintaan seperti dia tadi. “Nngg..nggak usah bang..ngrepoti abang”. “Ya nggaklah..jadi imbang kan”. Langsung kuambil segayung air lalu kuguyur ke tubuh didepannya. Ia hanya melihat. Kuambil lagi segayung. Lalu sabun yang tadi diletakkan di tepi bak mandi kuambil dan aku basahi.

leher kugosok; bahu; dan kedua tangan. Kubasahi sabun lagi dan kugosokkan ke d**a; kedua s**u dan pentilnya; serta perut. Kutatap matanya saat kugosok kedua gunungnya yang kumainkan sedikit p****l – pentilnya. rani juga melihatnya. Matanya mulai sedikit sayu. 1menit – dan kumainkan p****l –pentilnya, lalu sedikit kuremas s**u kirinya. Bibirnya sedikit membuat huruf o kecil dan “ohh..hhmm“.

Bab 1 :  Cerita-Skandal

Kubasahi lagi sabun, dan kugosokkan ke pinggang; paha dan kedua kakinya. v****a luar hanya kusentuh sedikit dengan sabun, takut perih dan iritasi nanti. Itupun sudah cukup membuat pandangan semakin meredup. Udara segayung lalu kuguyurkan ke tubuhnya 2 – 3x.

Kugosok dan kuremas sedikit keras dua gunungnya. Sedikit berguncang. Dua tangan rani memegang pinggir bak mandi, mulai erat. Kumainkan lagi p****l – pentilnya.

Aku merundukkan badan dan kukecup pucuk – pucuk bunganya bergantian. Tak perlu lagi ijin darinya. Tangan kiriku mengusap – usap lembut luar vaginanya. “Ouuh Paakk..”, rani mulai mendesah. Kukecup tawaran lembut, “nanti dilanjut lagi“. Matanya seperti bernada protes, tapi rani diam saja. Kubalikkan tubuhnya, lalu kuguyur punggungnya sekarang. Sabun kugosokkan ke punggung; pinggang; sial. Sabun kubasahi lagi lalu kugosokkan ke paha dan kaki bagian belakang. Aku mendekatkan tubuh di depannya lagi dari pinggang di belakangnya. rani sedikit menggeliat geli. Kutangkupkan dua diterima di dua susunya.

Bab 2 : Cerita-Skandal

Saya senang bermain – main di s**u yang bagus atau masih ok. Seluruh bagian belakang mencerminkan aku cium dan kecup, begitu juga dua kupingnya dan kubisikkan ”kamu diam saja ya..cup”. ”Geli Paakk..”, rani mendesah lagi. Dua pucuk bunganya makin mengecang dan keras. Aku menyentil – nyentil, kuputar – putar seperti mencari gelombang radio. Dua tangan rani mencengkeram paha depanku. ”Aahh..hmmppff”, erangnya. Tangan kananku mengambil segayung udara, kuguyur ke tubuh didepannya. Kali ini kuusap – usap v****a luarnya dengan tangan kanan, sedang yang kiri tetap di s**u kanan rani.

Baca Juga Cerita SelingkuhMenyusuri Labirin Cinta

Pahaku makin dicengkeramnya. Kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan disertai kecupan dan menciumku di belakang leher dan daun – daun telinga. Sesekali aku menyentuh bibir dalamnya. Terasa telah menghangat dan sedikit basah. ”Ppaakkk..oohhh”. Tubuhnya mulai menggeliat – geliat. Jari tengah kanan kumasukkan sedikit dan kusentuhkan pada dinding atas vaginanya, sedang jempol kananku kutekan – tekankan di lubang kencingnya.Aauugghhh Ppaakkk..eemmmppfff”. Kuku – kuku jemari rani terasa menggores dua paha depanku. ”Kenapa rani..hmm..kamu sendiri yang memulainya kan”, bisikku. Tangan kiriku meraih kepalanya dan kupalingkan ke kanan, dan kutahan lalu kucium dengan nada 2 kecup 1 masukkan lidah.

rani terkejut, matanya sedikit membesar tapi kemudian dia menikmatinya. Ganti tangan kananku melakukan hal yang sama. rani hanya bisa mengeluarkan suara yang tertahan ”nngg..emmppfftt..nnngggg”, begitu berulang. v****a dalamnya semakin hangat dan basah. Secara tiba – tiba kuhentikan lalu kubalikkan badannya menghadapku. Kemudian aku sandarkan tubuhnya di bak mandi. Aku kemudian berjongkok dan mulai mengecupi vaginanya.

”Jjanggann bang..jorok..”, dengan dua tangan menahan laju kepalaku. Kutatap matanya dan ”sssttt..”, jari telunjuk kanan kuletakkan di bibir. Dua tangan kusandingkan di samping kiri dan kanan tubuhnya.

Bab 3 : Cerita-Skandal

Kukecup kecil, sekali dua kali. Kemudian lidahku mulai menjulur di pintu kenikmatan kami. Mataku kuarahkan menatapnya. rani agak malu rupanya, tapi ada sedikit senyum di sana. Lidahku semakin intens menyerang v****a luar dan dalamnya. ”Ssuuddaahh Pppaakk..aaaddduuuhh..oohhhh”, disertai geliat tubuh yang semakin menjadi. Karena tak tahan dengan seranganku, dua genggaman meremas dan sedikit menarik rambut dan kepalalu.

Cairan lavanya makin keluar. Dua akan mendekap erat buah pantatnya. Jari tengah kiriku sesekali kumasukkan ke v****a dari belakang lalu kesentuhkan dan kutekan sedikit ke anusnya. ”Aammppuuunnn Pppaakkk..oouuuggghh..eeemmmpppffffs

Ssuudddaahhh..ooohhhh”, matanya agak membeliak ke atas dan kepala serta rambutku diremasnya kuat. Lava kepuasan dirinya mengalir deras, rasanya gurih sedikit manis. Kudekap erat rani dengan kepalaku di vaginanya dan pantatnya kuremas – remas. Kepalaku tetap diusap –usap oleh rani.

Ia menarik kepalaku dan menciumnya dengan ganas. Lambat laun rani dapat belajar dariku. Tangan meremas dan menarik – narik penisku. “Panjang ya bang”, tanya rani. ”Biasa kok Tin..pingin ya..”, godaku. ”Aahh abang..”, jawabnya dengan memainkan bola – bolaku. rani merundukkan tubuhnya lalu tangan kirinya memegang p***s dan menciumnya. Mungkin dia belum pernah meng – oral suami dulu karena penisku hanya dicium – cium dan diremas – remas. lanjut bagian 3

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *