Cerita-Skandal : Aku diminta untuk menjaga rumah adik karena keluarganya akan pergi hingga sore dan Rani akan tinggal di rumah karena kondisi perutnya yang buruk. Aku sudah berada di sana sebelum keluarga adik pergi.
Perasaan yang Tak Terungkap
Di rumah, mas Rani mengalami masalah perut. “Mis yang tidak bawa”, kata adikku. “Oo..ya”, jawabku. Mereka berangkat tak lama kemudian. Aku memasukkan sepeda motor dengan cepat ke dalam rumah. Rani kemudian membuka pagar. Aku masuk ke rumah dan dengan cepat duduk di depan komputer saya untuk mengakses internet untuk mendukung pekerjaan suami adikku. Melihat email saya, menemukan informasi ini, dan tentu saja masuk ke DS. 10 menit kemudian, Rani memberi saya segelas es teh.
“Terima kasih ya Tin,” kataku. “Iya bang..silakan diminum,” jawab rani. Meskipun terdengar sedikit asing di telinga, pembantu adikku biasa memanggil saudara majikannya “bang”.
Setelah Rani kembali ke dapur, aku meminum es tehnya dan berkata, “Hah..segernya.” Cuaca agak panas tetapi mendung. rani kembali ke ruang keluarga dan membersihkan mainan anak adikku. Selisih dua kotak adalah tempat meja komputer dan mainan yang tersebar di lantai. Aku tidak menyadari hal itu pada awalnya. Saat Rani mulai memasukkan kembali mainan ke keranjang, baru aku menyadarinya saat mataku menatap layar komputer di situs DS.
Bab 1: Cerita-Skandal
Aku kadang-kadang meliriknya dan menemukan bahwa anak itu sedikit putih. Dia langsing dan tampaknya masih memiliki berat badan yang normal. Wah..ini karena saya masuk ke situs DS dan memikirkan banyak hal..hi3x, pikirku. Karena kami tidak jauh, Rani bersimpuh di lantai merapikan mainan di keranjang, dan kaosnya yang agak longgar menunjukkan sebentuk keindahan yang terbungkus penutup warna biru. Rani jelas tidak menyadari kecerobohan saya saat melihat bagian tubuhnya yang indah. Permainan Pkv
“Andaikan aku…uhh..ngayal nih“. Tak terasa penisku mulai membesar, “Ke kamar mandi mbetulin posisi p***s nih..sambil kencing“. Komputer kutinggal dengan layar bergambar Maria Ozawa sedang disetubuhi di kamar mandi. Aku lalu masuk kamar mandi, membuka jins dan cd lalu mengeluarkan p***s. Agak susah juga kencing dengan p***s yang sedikit tegang. “Lah..pintu lupa tak tutup“, aku terkejut. “Terlanjur..gak ada orang lain kok“, aku mendinginkan diri.
Bab 2: Cerita-Skandal
Aku keluar dari kamar mandi dan kembali duduk di depan komputer melanjutkan ngubek – ubek DS. “Cari camilan di meja makan ah..jadi lapar“. Aku mencari apa yang bisa dimakan untuk menemani keskakakkan nge net. “Ada roti sama biskuit nih..asyik“. Roti kusemir mentega dan selai kacang dan diatasnya kulapis dengan selai blueberry, “Hmm..enaknya. Nanti bikin lagi ah..masih banyak rotinya“. Rumah adikku tipe agak kecil, jadi jarak antar ruangan agak dekat.
Letak meja makan dengan kamar pembantu hanya 3meter – an. Kulihat dengan ujung mata, rani sedang di kamarnya entah beraktifitas apa. Selesai menyelesaikan semiran roti, aku kembali ke ruang keluarga yang melewati kamar pembantu dan kamar mandi mereka. 2detik aku dan rani bertatapan mata, tidak ada sesuatu, biasa saja. Kumakan roti sambil main DS lagi.
Terdengar gemercik air di belakang. Mungkin rani sedang mencuci perabotan dapur atau sedang mandi. “Belum ambil air putih nih..“, tak ada maksud apa – apa dengan suara air tersebut. Hanya kebetulan aku belum minum air putih, walau telah ada es teh. Aku ke ruang makan lagi dan mengambil gelas lalu menuju dispenser. Mata dan pikiran hanya tertuju pada air yang mengucur dari dispenser.
Baru setelah melewati kamar mandi pembantu ada yang special di sana. ”Lah..pintunya kok sedikit buka. Tin lupa dan sedang apa di dalam..moga gak mandi. Bisa dilaporin ngintip aku”. Masih tak terlihat kegiatannya, setelah tangan yang sedang menggapai gayung dan kaki yang diguyurnya baru aku ngeh..rani sedang mandi.
Bab 3 : Cerita-Skandal
”Duhh..kesempatan sangat – sangat langka ini..tapi..kalo dia teriak dan nanti lapor adikku..bisa gawat bin masalah. Berlagak gak liat aja ahh”. Aku menutup pintu kaca ruang makan dan melewati kamar mandi rani. Tiba – tiba ”Ahh..ada kecoak..Hush..hush..Aduhh..gimana nih”, terdengar kerkakaktan di sana. ”He3x..ternyata dia takut kecoak toh”, aku tersenyum sambil pegang gelas saat melewati kamar mandi.
”bang..bang”, rani memanggilku. ”Walah..malah panggil aku. Gimana nih”. ”Tolong ambilkan semprotan serangga di gudang ya bang..cepet ya bang..atau..”, tidak terdengar lanjutan kalimatnya.
Sejak rani bersuara, aku sudah berhenti dan diam di dekat pintu kamar mandi. ”Atau..abang yang masuk pukul kecoaknya..mumpung masih ada”, lanjutnya. Deg..”Ini..antara khayalan yang jadi nyata dan ketakutan kalo dilaporkan”, aku berpikir. ”Cepet bang..kecoaknya di dekat kloset. abang masuk aja..nggak papa.
Bab 4 : Cerita-Skandal
Nggak saya laporin ke abang sama kakak”, rani tahu keraguanku. ”Jangan ah..nanti kalo ada yang tau atau kamu laporin bisa rame”, jawabku. ”Nggak bang..bener. Aduh..cepet bang..dia mau pindah lagi”, rani kembali meyakinkanku dan meminta aku cepat masuk karena kelihatannya si kecoak mau lari lagi. ”Ya udah kalo gitu. Bentar..ambil sandal dulu”. Sambil tetap menimbang, take it or leave it. Aku menaruh gelas di meja makan lalu mengambil sandal untuk membunuh kecoak nakal itu.
Entah rejeki atau kesialan bagiku tentang kemunculannya. ”Aku masuk ya Tin”, masih ragu diriku. ”Masuk aja bang”, rani tetap membujukku. Kubuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kuintip letak kecoaknya, belum terlihat. Pintu dkakakka lebih lagi oleh rani.
Kepalanya sedikit terlihat dari balik pintu dan tangannya menunjuk letak kecoak, ”..tuh bang mau lari lagi”. Aku melihatnya dan mulai masuk. rani berdiri di balik pintu dengan menutupi sedikit bagian tubuhnya dengan handuk. Terlihat paha; pundak dan daging susunya. Serta rambut yang diikat di belakang kepalanya, walau hanya sedikit semua. Handuknya menutupi bagian paha ke atas, perut hingga bagian d**a, warna biru, yang disangga tangan kirinya.
Semua hal itu dari ekor mataku, karena fokusku pada sang kecoak. ”Memang mulus dan cukup putih”, masih sempat aku memikirkannya. Bagaimana tidak, jarak kami hanya 2 – 3 langkah, tidak ada orang lain lagi di rumah.
Bab 5 : Cerita-Skandal
”Plak..plak”, kecoak pun mati dengan sukses. Aku guyur dengan air agar masuk ke lubang pembuangan. Tanpa memikirkan lebih lanjut, aku lalu melangkah ke luar kamar mandi. ”Terima kasih ya bang..sudah nolongin”. ”Oh..iya..”, sambil kutatap dia dan rani tersenyum. ”abang nggak cuci tangan sekalian..di sini saja”, tawar rani. ”Wah..ini. Makin bikin dag dig dug”. ”Emm..iya deh”. Aku akan mencuci tangan dengan sabun, yang ternyata posisi tempat sabun ada di belakang tubuh rani.
Aku menengok ke belakang tubuhnya. Rupanya dia baru sadar, lalu mengambilkan sabun, ”Maaf bang..ini sabunnya”. rani mengulurkan sabun dengan tersenyum. Sabun yang sedikit basah berpindah dan tangan kami mau tidak mau bersentuhan. ”Makasih ya”, ujarku.
Aku mencuci tangan dan mengembalikan sabun padanya. ”abang nggak..sekalian mandi”, tanya rani. ”Waduh..tawaran apa lagi ini. Tambah gawat”. ”Iya..nanti di rumah”. ”Nggak di sini saja bang?”. ”Kalo di sini yaa di kamar mandi depan”. ”Di kamar mandi ini saja bang..”. ”Nggaklah..jangan. Di depan aja. Kalo di sini ya habis kamu mandi”. ”Maksud saya..sekalian sekarang sama saya. Hitung – hitung abang sudah nolongin saya”. Matanya memohon. Deenngg, sebuah lonceng menggema di kepala.
”Ini ajakan yang membahayakan, juga menyenangkan”, pikirku. ”abang nggak usah mikir. Saya nggak akan bilang siapa – siapa. Ya bang..di sini saja”, dia memahami kekhawatiranku. ”Emm..ya udah kalo kamu yang minta gitu”, jawabku.
Baca Juga Cerita Selingkuh: Menyusuri Labirin Cinta
Entah mengapa aku merasa canggung saat akan membuka kaosku. Padahal tidak ada orang lain dan juga sesekali ke pijat plus. Aku buka jam tanganku dulu, lalu aku keluar dari kamar mandi dan kuletakkan di meja makan. Posisi rani masih tetap di belakang pintu, dengan tangan kanan menahan pintu agar tetap agak terbuka.
Kembali ke kamar mandi, kubuka kaosku dan kusampirkan di cantolan yang menempel di tembok. ”Pintunya nggak ditutup aja Tin ?”, tanyaku. Pertanyaanku sesungguhnya tidak memerlukan jawaban, hanya basa basi. “Nggak usah bang..kan nggak ada siapa – siapa”, jawab rani.
Lalu kubuka jinsku, kusampirkan pula. Sesaat aku masih ragu melepas kain terakhir penutup tubuhk, cd – ku. “abang nggak nglepas celana dalem ?”, tanyanya. “Heh..ya iya”, kujawab dengan nyengir. Penisku sebisa mungkin kutahan tidak mengembang, tapi hanya bisa kutahan mengembang ¼ – nya.
Sengaja kutatap matanya saat melepas cd – ku. Mata rani sedikit membesar. Kusampirkan juga cd – ku. Lalu dengan tenang rani menyampirkan handuk biru yang sedari tadi menutup sebagian tubuhnya. “Duh..pantatnya masih ok. Pinggangnya tidak berlemak. Sabar ya nak..kita liat situasi dulu”, kataku pada sang p***s sambil kuelus.
rani lalu membalikkan badan. Cegluk, suara ludah yang kutelan. “Uhh..susu yang masih bagus juga. Pentilnya nggak terlalu besar, areolanya juga, warnanya pas..nggak item banget. Perutnya sedikit rata dan..hmm..rambut bawahnya hanya sedikit”. Mau tidak mau, penisku makin mengembang dan itu jelas dilihat rani. Kembali sebisa mungkin kutahan perkembangannya. rani lalu menggosok gigi dahulu. Karena aku tidak membawa sikat gigi, hanya berkumur dengan obat kumur.
Bab 6 : Cerita-Skandal
“abang saya mandiin dulu ya”, kata rani. “Terserah kamu”, jawabku sambil tersenyum. rani lalu mengambil segayung air, diguyurkan ke badan dari leher dan pundak.
Mengambil lagi segayung, diguyurkan ke perut dan punggung ditambah senyum manisnya. Ia lalu meraih sabun, digosokkan ke leher; pundak; d**a dan tangan kananku.
Dibasahinya sabun dengan diguyur air lalu digosokkan ke tangan kiri; perut; p***s; bola – bolaku. “Uhh..gimana bisa nahan p***s nggak ngembang”. Bagaimana tidak, saat menggosok p***s dan bola – bolaku sengaja digosok dan di urutnya. Ditatapnya senjata kebanggaanku, lalu menatapku dan tersenyum. Aku hanya bisa membalasnya dengan senyum juga. Diambilnya lagi segayung air, sabun dibasahi dan sisanya diguyurkan ke paha dan kaki lalu digosoknya.
Sabun kemudian diletakkan di pinggir bak mandi, kemudian mengambil segayung air dan diguyurkan ke badan depanku. Ambil segayung lagi dan diguyurkan lagi, tak lupa senjataku dibersihkan dari sisa – sisa sabun. Sedikit diremas oleh rani. Kutahan keinginanku untuk membalas perlakuannya, “biar rani yang pegang kendali”.
“Balik badan bang”, perintahnya. Air diguyurkan ke punggung dan bagian bawah badanku. Digosoknya punggung; p****t; lalu paha dan kaki sisi belakang. Bonusnya, kembali menggosok p***s dan bola – bolaku dan meremasnya. “Duh..ni anak. Bikin senewen..sengaja membuat panas aku“.
Kembali air mengguyur tubuh belakangku, sebanyak 3x. Dibalikkan badanku lalu mengguyur senjataku, digosok – gosoknya hingga sedikit memerah. Jantungku makin berdebar. lanjut part 2