Main ke Rumah Tante Renata yang Telah Menjanda Selama 3 Tahun

cerita dewasa

Hujan deras mengguyur sejak siang, membasahi setiap sudut jalan yang kulewati. Aku, yang baru saja selesai menghadiri pertemuan kampus, memutuskan untuk mampir ke rumah Tante Renata. Rumahnya terletak di ujung kompleks, agak terpencil namun dikelilingi taman kecil yang selalu terawat. Aku jarang berkunjung, tapi hari itu rasanya ada dorongan kuat untuk menemuinya.

Tante Renata, adik sepupu ibuku, adalah wanita yang luar biasa. Setelah kehilangan suaminya tiga tahun lalu, ia tetap tegar menjalani hidup sendirian. Meski sudah memasuki usia 40-an, kecantikannya tetap memancar—kulitnya yang bersih, tubuhnya yang terawat, dan caranya membawa diri yang penuh keanggunan.

Ketika aku mengetuk pintu, ia membukanya dengan senyuman khasnya. “Nak, kok basah-basahan? Cepat masuk, nanti kamu masuk angin!” katanya dengan nada cemas sambil menarikku masuk.

Aku hanya tersenyum. “Iya, Tante. Hujannya deras banget tadi.”
“Lepas dulu jaketmu, biar Tante ambilin handuk,” katanya sebelum berlalu ke dalam.

Saat aku duduk di sofa ruang tamu, aroma wangi melati samar tercium dari diffuser yang diletakkannya di sudut ruangan. Rumahnya rapi, dengan sentuhan dekorasi modern namun tetap terasa hangat. Tak lama, ia kembali membawa handuk dan secangkir teh hangat.

“Minum dulu, biar badanmu hangat,” katanya sambil duduk di sofa sebelahku.


Percakapan yang Menarik Hati

Setelah beberapa menit, kami mulai berbincang. Tante Renata banyak bercerita tentang kesehariannya. Bagaimana ia mengurus taman kecil di halaman, memasak makanan kesukaannya, hingga memulai bisnis kecil berupa catering untuk teman-temannya.

“Aku senang, Tante, masih aktif meski di rumah,” kataku, mengagumi ketegarannya.
“Ya, mau gimana lagi? Kalau nggak ada kegiatan, rasanya semakin sepi,” jawabnya sambil tersenyum tipis.

Percakapan kami mengalir begitu saja. Sesekali, ia menatapku dengan sorot mata yang hangat, membuatku merasa nyaman sekaligus canggung. Ada sesuatu dalam caranya bicara—lembut, penuh perhatian, dan seolah menyembunyikan kerinduan yang mendalam.

Tante sexy ini terlihat makin muda aja,” kataku tiba-tiba, mencoba mencairkan suasana.
Ia tertawa kecil, menutupi wajahnya dengan tangan. “Ah, kamu ini bisa aja. Tante kan udah tua, mana ada yang bilang muda lagi.”
“Serius, Tante. Kalau nggak bilang, aku kayaknya nggak percaya kalau Tante udah 40-an,” balasku dengan nada bercanda.

Wajahnya memerah sedikit, tapi ia hanya menggeleng sambil tersenyum. “Kamu ini ada-ada aja.”


Malam yang Membawa Kehangatan

Ketika hujan mulai reda, malam pun semakin larut. Tante Renata mengajakku makan malam bersama. Meskipun hanya hidangan sederhana berupa sop ayam dan sambal, semuanya terasa istimewa karena dibuat dengan penuh perhatian.

“Kamu pasti jarang makan masakan rumahan, ya? Tante tahu anak muda sekarang suka yang praktis-praktis,” katanya sambil menuangkan nasi ke piringku.
“Memang jarang, Tante. Tapi kalau masakannya seenak ini, aku bisa makan di sini tiap hari,” jawabku spontan.

Ia tertawa kecil. “Tante senang kamu suka. Kalau mau, kapan-kapan main lagi, Tante masakin.”

Setelah makan, kami kembali duduk di ruang tamu. Kali ini, ia duduk lebih dekat, membawa selimut kecil untuk kami berdua.

“Kadang, Tante suka merasa sepi di rumah ini,” katanya pelan. “Setelah ditinggal Om, semuanya berubah.”
Aku menatapnya, mencoba membaca ekspresi di wajahnya. “Tapi Tante tetap kuat. Aku kagum sama Tante.”

Ia tersenyum tipis, tapi aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. “Tante nggak punya pilihan lain, Nak. Hidup harus terus berjalan.”

Ada jeda sejenak. Hanya suara hujan yang samar terdengar dari luar. Aku merasa ingin mengatakan sesuatu, tapi sulit menemukan kata-kata yang tepat.

“Tante senang kamu datang malam ini. Rasanya beda kalau ada kamu,” katanya tiba-tiba.

Aku hanya tersenyum, meski jantungku berdegup lebih kencang. Ada sesuatu dalam ucapannya yang sulit dijelaskan. Kehangatan, kerinduan, atau mungkin… lebih dari itu?


Rahasia yang Tertinggal

Ketika malam semakin larut, Tante Renata bangkit dari sofa. “Kamu istirahat dulu, ya. Tante juga mau ke kamar. Besok pagi kita sarapan bareng.”
Aku mengangguk, menatapnya saat ia berjalan menuju kamarnya. Namun, sebelum pintunya tertutup, ia menoleh dan tersenyum sekali lagi.

Malam itu, aku berbaring di sofa, memikirkan semua yang terjadi. Tante Renata bukan hanya wanita biasa bagiku. Ia adalah perpaduan antara kehangatan keluarga dan pesona yang sulit diabaikan. Meski begitu, aku tahu batas itu harus ada. Semua perasaan ini hanya akan menjadi rahasia kecil yang kusimpan dalam hati.

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *